SEKILAS INFO
  • 9 bulan yang lalu / Selamat Datang Di Lazismu Kota Pekalongan
  • 2 tahun yang lalu / Tema versi 1.2 telah dirilis, silahkan update temanya langsung dari Dasbor masing-masing
  • 2 tahun yang lalu / Versi baru WP Masjid segera rilis dengan perubahan tampilan yang cukup signifikan
WAKTU :

MEWASPADAI JERAT-JERAT SYETAN DIBALIK HEDONISME PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI

Terbit 1 Februari 2014 | Oleh : sugeng | Kategori : Berita / remaja

majelis-ulama-aceh-haramkan-perayaan-tahun-baru-masehi

Oleh: Ust . H. Ibnu Sholeh, MA , M.PI

(Perwakilan MIUMI – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia-Jateng)

 

Hampir setiap tahun dunia ini di penuhi dengan hingar-bingar perayaan tahun baru masehi.  Semarak acara di malam itu dipenuhi dengan pesta petasan dan kembang api. Begitu juga gegap gempita dunia yang dipenuhi dengan pesta pora diringi sorak sorai  suara terompet dan wanita ditengah malam hari.

 

Namun  perayaan tahun baru adalah budaya jahiliyyah yang mendunia dizaman ini. Dialah ritual tahunan yang lahir dari masyarakat non Islam. Yaitu masyarakat jahiliyyah yang jauh dari hidayah dan menyimpang dari fitroh dan ajaran Islam yang murni.

PERAYAAAN TAHUN BARU MASEHI DALAM LINTAS SEJARAH

Kalau di runut  dari berbagai sumber, munculnya tradisi  perayaan tahun baru masehi muncul dari peradaban romawi yang notabene beraqidah paganisme (penyembah berhala) dan Zoroastirianisme (penyembah dewa). Mulanya bangsa romawi kuno memiliki sistem penanggalan tersendiri sebelum diganti dengan penanggalan masehi.

Peletak dasar penanggalan masehi adalah Julius Caesar pada tahun 45 SM. Oleh karena itu sistem penanggalan masehi disebut juga dengan penanggalan Julian yang didasarkan pada perhitungan peredaran matahari. Awal penanggalan masehi di mulai dari bulan Januari yang berasal dari nama dewa bermuka dua (dewa Janus) yang diyakini sebagai pen-jaga pintu gerbang Olympus.

Kemudian setelah Kristen menjadi agama resmi di kekaisaran Romawi kuno (312 M) sistem penanggalannya pun mengekor pada penanggalan Julian, namun mereka jadikan tahun 1 Masehi sebagai tahun kelahiran tuhan mereka, Yesus Kristus. Begitu juga dengan bangsa Yahudi, setelah Yerusalem di kuasai romawi (63 SM) sistem penanggalan yahudi berganti dengan penanggalan masehi. Setelah berjalannya waktu munculah tradisi “Sylvester Night” dengan berpesta pora pada malam 31 Desember hingga 1 Januari. Tradisi ini akhirnya diperingati hingga zaman ini.

PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI

(Bukti  Keterpurukan Fitroh Umat Manusia)

 

Dibalik gegap gempita perayaan tahun baru ternyata tersimpan segudang keterpurukan rohani yang begitu dahsyat. Manusia seolah lupa dengan tujuan hidupnya. Berbagai kemasiatan menjadi satu di malam tahun baru. Bagaimana tidak?, ketika jutaan manusia melaksanakan berbagai kemungkaran dengan dalih pergantian tahun baru.  Semua itu dilakukan dengan kolektif dan ditempat umum. Seolah penyimpangan fitroh tersebut bukanlah kejahatan publik lantaran mendapatkan legalitas dari masyarakat dunia yang di dominasi sistem jahiliyyah yang terorganisasi rapi. Astaghfirullahal ‘Azim

 

Sayyid Qutb Rahimahullah dalam muqodimah kitab beliau “Fi Dzilalil Qur’an[Diterjemahkan secara bebas dari muqodimah kitab “Fi Dzilalil Qur’an”, Sayyid Qutub, 2008. Daarul asy -Syuruuq, Mesir. Juz 1].

“ketika menyifati masyarakat yang tenggelam dalam kejahiliyyahan. “Dan aku telah hidup  di dalam naungan Qur’an. Aku melihat dari tempat yang sangat tinggi ke pada gelombang dahsyat kejahiliyyahan yang membahana dan berkecamuk di atas muka bumi ini. Begitu juga aku lihat  betapa kecil dan kerdilnya perhatian para penduduknya terhadapnya. Dalam naungan al-Qur’an aku melihat dengan keterheranan kepada para  pemuja-pemuja jahiliyah itu berbangga-bangga dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka, yaitu ilmu pengetahuan yang sebenarnya  kekanak-kanakan, kefahaman dan pemikiran yang kanak-kanak, serta minat dan cita-cita yang kanak-kanak pula. Pandanganku tersebut  sama seperti pandangan seorang dewasa kepada mainan kanak-kanak. Sungguh aku terheran. Ya, terheran apa sebenar-nya yang ada dalam benak mereka? Kenapa mereka tenggelam dalam lumpur kotor keterpurukan dan enggan mendengarkan dan menyambut seruan yang maha  tinggi, yaitu seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikan luhur dan memberkati kehidupan dan umur mereka?”

Ungkapan Sayyid Qutb ini persi seperti yang kita saksikan hari ini. Sungguh keterpurukan rohani terbesar bisa kita lihat di malam perayaan tahun baru. Mereka berhura-hura, berpesta pora dan bermaksiat sambil tertawa ria  namun tidak menge-tahui apa tujuannya ?.

Mirip sekali perbuatan mereka seperti anak-anak  kecil yang  sedang bermain di dalam hidup ini. Lebih terpuruk lagi jika tradisi jahiliyyah tersebut di rayakan oleh umat Islam bahkan di Negara yang mayoritas kaum Muslimin dan mendapat legalitas Pemerintah. Tentunya ini merupakan keterpurukan rohani yang menjadi biang keladi berbagai musibah (keterpurukan duniawi) di negeri ini.

 

BENTUK PENYIMPANGAN DIMALAM PERGANTIAN TAHUN  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam kitabnya “Iqtidho’ Ash-Shirot Al-Mustaqim fi Mukholafah Ashabul Jahim.”  berkata;

إِنَّ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ هُوَ أُمُوْرٌ بَاطِنَةٌ فِيْ القَلْبِ؛ مِنْ إِعْتِقَادَاتٍ، وَإِرَادَاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ، وَأُمُوْر ظَاهِرَة؛ مِنْ أَقْوَالٍ، وَأَفْعَالٍ، قَدْ تَكُوْنُ عِبَادَات، وَقَدْ تَكُوْنُ أَيْضاً عَادَات فِيْ الطَّعَامِ، وَاللِّبَاسِ، وَالنِّكَاحِ، وَالمَسْكَنِ وَالإِجْتِمَاعِ، وَالإِفْتِرَاقِ، وَالسَّفَرِ، وَالرُّكُوْبِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Sirotulmustaqim adalah perkara-perkara batin di dalam hati dari keyakinan-keyakinan dan berbagai keinginan dan lainnya. Begitu juga menyangkut perkara dzohir dari perkataan dan perbuatan. Terkadang bisa berupa peribadatan dan terkadang pula bisa berupa kebiasaan dalam tata cara makan, berpakaian, pernikahan, tempat tinggal dan budaya masyarakat, acara perpisahan, bepergian serta rekreasi dan lain-lain.”

Dilihat dari sejarahnya, peringatan tahun baru masehi berasal dari kaum kuffar. Didalam Islam tidak ada perayaan kecuali perayaan dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi tradisi perayaan tahun baru yang berupa begadang tengah malam, konvoi, pesta kembang api dan petasan serta terompet sangat jauh dari  ajaran yang lurus (sirotulmustaqim).  Siapakah mereka ? dialah jalan golongan “al-Magdhubi ‘Alaihim (orang-orang yang di benci)” yaitu golongan Yahudi dan jalan “adh-dhollin (orang yang tersesat)” yaitu orang Nasrani. [Lihat al-Mishbah al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, I’dad jama’ah minal ulama bi isyrof Syaikh Sofiyyurohman al-Mubarokfuri, Darus Salam li nasyri watauzi’, 2000, Riyadh, hal 26].

Lebih dari itu perayaan tahun baru adalah bentuk tasyabbuh dengan kaum kuffar yang hukumnya adalah haram. Dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum maka dia termasuk golongannya”  (HR. Abu Dawud no. 4031)

 

PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI

MISI PENGHAPUSAN NILAI – NILAI ISLAM

 

Ketika pasukan Islam telah meluluh lantakkan peradaban Persia dan Romawi, maka Kholifah Umar Radiyallahu ‘anhu membuat sistem penanggalan Islam dengan penanggalan hijriah berdasarkan perhitungan peredaran bulan. Dan kalau kita renungkan hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.”  (QS. al-Baqoroh [2]: 189).

Didalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan bahwa perhitungan penanggalan dalam Islam  dengan peredaran bulan. Kemudian Umar Radiyallahu ‘anhu menjadikan tonggak sejarah awal kebangkitan Islam yaitu peristiwa hijrahnya nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tahun per-tama dalam tahun hijriah. SubhanAllah, kalau kita cermati ini merupakan ke-jeniusan kholifah Umar Radiyallahu ‘anhu yang luar biasa. Namun demikian beliau sama se-kali tidak memerintahkan kaum Mus-limin untuk memperingati tahun baru hijriah.

Setelah umat ini meninggalkan kemurnian. Mereka mulai megekor tradisi orang orang kafir. Bahkan ketika hegemoni Yahudi dan Nasroni menguasai dunia tradisi itu membudaya di kalangan kaum Muslimin. Allahu musta’an

Akhirnya sistem penanggalan hijriah mulai luntur dikalangan kaum Muslimin berganti dengan penanggalan masehi. Akibatnya terkubur pula jejak-jejak sejarah Islam. Padahal tidak mungkin syiar-syiar Islam yang murni akan bangkit kecuali dengan menghidupkan kembali penanggalan hijriah dalam kehidupan kaum Muslimin. Semoga kita bisa menghidupkan kembali sunnah mulia yang kini redup di telan peradaban tirani tersebut. Pada hakikatnya menghidupkan penanggalan masehi adalah menghidupkan syiar-syiar jahiliyyah dan mengubur sejarah emas kejayaan Islam.

 

 

PADAHAL KITA ADALAH UMAT TERBAIK

Suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberitakan pada para Sahabat;

 لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ

“Sungguh engkau sekalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelummu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak engkaupun akan mengikutinya. Kita (para -habat) bertanya; Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasroni? Beliau menjawab, siapa lagi kalau bukan mereka.”  (HR. Muslim).

Apa yang di kabarkan beliau sungguh benar dan telah terjadi. Perayaan tahun baru adalah bukti konkret dari pengekoran (tasyabbuh) umat ini pada budaya kaum kufar Yahudi dan Nasrani. Sangat tidak pantas bagi kaum Muslimin mengikuti budaya mereka yang menyimpang dari fitroh. Kita harus selalu ingat bahwa kita umat terbaik yang di anugrahkan bagi alam ini. Ya, umat terbaik hingga akhir zaman…Wallahu ‘Alam Bisshowab

SebelumnyaMakna BERMUHAMMADIYAH SesudahnyaGerakan Jamaah & Dakwah Jamaah Dalam Muhammadiyah

Berita Lainnya

0 Komentar